Balai Lelang.id
← Kembali ke Artikel
investasi-lelang 11 Mei 2026 · Tim BalaiLelang.id

Cara Hitung ROI Properti Lelang: Rumus dan Contoh Nyata

Rumus lengkap cara hitung ROI properti lelang dengan contoh kasus nyata. Pelajari cara kalkulasi yang benar sebelum memutuskan ikut lelang properti.

Banyak investor lelang pemula menghitung ROI dengan cara yang terlalu sederhana: “beli Rp 500 juta, jual Rp 700 juta, untung Rp 200 juta, ROI 40%.” Angka yang menggiurkan, tapi jauh dari kenyataan.

Kalkulasi yang benar bisa memangkas angka itu menjadi separuhnya — atau lebih rendah. Dan justru itulah yang perlu Anda ketahui sebelum memutuskan ikut lelang.

Rumus Dasar ROI Properti

ROI = (Keuntungan Bersih ÷ Total Modal Keluar) × 100%

Sederhana di atas kertas, rumit dalam praktik — karena dua variabel ini (keuntungan bersih dan total modal keluar) sering dihitung tidak lengkap.

Cara Menghitung Total Modal Keluar

Total modal keluar bukan hanya harga menang lelang. Komponen lengkapnya:

Biaya Saat Pembelian:

  • Harga terbentuk (harga menang lelang)
  • Bea lelang pembeli: 2% dari harga terbentuk
  • BPHTB: 5% × (harga terbentuk − NJOP TKP). Nilai NJOP TKP (Tidak Kena Pajak) berbeda per daerah, umumnya Rp 0–80 juta
  • Biaya balik nama dan notaris: Rp 5–15 juta
  • Biaya pengecekan BPN dan dokumen: Rp 1–3 juta

Biaya Selama Holding:

  • Biaya pengosongan (jika ada penghuni): Rp 5–50 juta untuk kompensasi sukarela, atau biaya pengacara jika via eksekusi
  • PBB selama masa holding
  • Biaya utilitas yang tertunggak (listrik, air, IPL)
  • Biaya perawatan/keamanan properti

Biaya Renovasi/Persiapan:

  • Estimasi perbaikan berdasarkan kondisi fisik
  • Buffer 20–30% untuk biaya tak terduga

Total = Semua komponen di atas dijumlahkan

Cara Menghitung Keuntungan Bersih

Untuk Strategi Jual (Flipping): Keuntungan Bersih = Harga Jual − Total Modal Keluar − Biaya Saat Penjualan

Biaya saat penjualan:

  • PPh penjual: 2,5% dari harga jual
  • Biaya notaris/PPAT: Rp 5–10 juta
  • Komisi agen (jika ada): 2–3% dari harga jual

Untuk Strategi Sewa: Keuntungan Bersih Tahunan = Pendapatan Sewa Bruto − Biaya Operasional Tahunan

Biaya operasional tahunan:

  • PPh sewa: 10% dari pendapatan bruto
  • PBB tahunan
  • Perawatan rutin: 1–2% dari nilai properti
  • Vacancy allowance: asumsi 1–2 bulan/tahun kosong
  • Property management fee (jika ada): 8–10% dari pendapatan sewa

Contoh Kasus Nyata: Strategi Flipping

Objek: Rumah tapak, SHM, 3 kamar, Bekasi Barat Harga limit: Rp 600 juta Harga menang: Rp 650 juta (naik dari limit)

Kalkulasi Total Modal Keluar:

KomponenNilai
Harga menangRp 650.000.000
Bea lelang (2%)Rp 13.000.000
BPHTB (asumsi NJOP 400 juta, TKP 0)Rp 32.500.000
Balik nama + notarisRp 12.000.000
Biaya pengosongan (negosiasi)Rp 15.000.000
Renovasi sedang (cat, lantai, instalasi)Rp 75.000.000
PBB 6 bulan holdingRp 3.000.000
Total Modal KeluarRp 800.500.000

Harga pasar komparabel: Rp 950 juta (setelah renovasi) Target harga jual: Rp 900 juta (sedikit di bawah pasar untuk kecepatan jual)

Kalkulasi Keuntungan:

KomponenNilai
Harga jualRp 900.000.000
PPh penjual (2,5%)−Rp 22.500.000
Notaris/PPAT−Rp 8.000.000
Penerimaan bersihRp 869.500.000
Total modal keluarRp 800.500.000
Keuntungan BersihRp 69.000.000
ROI8,6%

Jauh dari angka “40% untung” yang awalnya terlihat di permukaan. Apakah 8,6% dalam 8 bulan masih worth it? Itu setara 12,9% annualized — lebih baik dari deposito dan masih kompetitif. Tapi jauh berbeda dari ekspektasi awal.

Contoh Kasus Nyata: Strategi Sewa 5 Tahun

Objek yang sama, tapi strategi berbeda: Total Modal Keluar: Rp 800,5 juta Sewa bulanan: Rp 5,5 juta → Rp 66 juta/tahun

Biaya tahunan:

  • PPh sewa: Rp 6,6 juta
  • PBB: Rp 6 juta
  • Perawatan: Rp 10 juta
  • Vacancy (1 bulan): Rp 5,5 juta
  • Total biaya: Rp 28,1 juta

Pendapatan net: Rp 66 juta − Rp 28,1 juta = Rp 37,9 juta/tahun Yield net: 37,9 / 800,5 × 100% = 4,7%

Ditambah asumsi capital gain 5% per tahun (konservatif untuk Bekasi), total return tahunan sekitar 9,7%. Lebih menarik untuk jangka panjang.

Metrik Tambahan yang Berguna

Payback Period: Berapa tahun hingga modal kembali dari sewa? 800,5 / 37,9 = 21 tahun (hanya dari sewa, belum termasuk capital gain)

Cash-on-Cash Return: Jika sebagian modal dari pinjaman, ini lebih relevan dari ROI murni — tapi lelang membutuhkan pembelian tunai, jadi ini lebih relevan untuk refinancing setelahnya.


Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa perbedaan ROI dan IRR dalam investasi properti lelang?

ROI mengukur total keuntungan bersih dibagi total modal, tanpa mempertimbangkan waktu. IRR memperhitungkan waktu — kapan uang masuk dan keluar. Untuk investasi lelang jangka pendek (6–18 bulan), ROI sederhana sudah cukup. Untuk investasi sewa jangka panjang, IRR memberikan gambaran lebih akurat karena mempertimbangkan nilai waktu uang.

Biaya apa saja yang sering terlupakan saat menghitung ROI properti lelang?

Biaya yang paling sering terlupakan: bea lelang 2%, BPHTB yang bisa 5% dari nilai transaksi, biaya holding selama properti belum bisa dimanfaatkan (PBB, maintenance), biaya pengosongan jika ada penghuni, dan opportunity cost modal yang terkunci.

ROI minimum berapa yang layak untuk investasi properti lelang?

Untuk flipping (jual dalam 1 tahun), minimum 20% ROI kotor atau 15% ROI bersih. Untuk investasi sewa jangka panjang, minimum yield net 5% per tahun ditambah asumsi capital gain 5–8% per tahun. Sesuaikan dengan biaya peluang (opportunity cost) dana Anda.


Tim BalaiLelang.id adalah praktisi lelang properti dengan pengalaman mendampingi lebih dari 500 transaksi lelang di seluruh Indonesia.

Ingin kalkulasi ROI untuk objek lelang yang Anda incar? Hubungi tim kami via WhatsApp dan kami bantu hitung dengan asumsi yang realistis — atau cek daftar lelang terbaru di balailelang.id.

Tertarik Investasi Properti Lelang?

Konsultasi gratis dengan tim kami sekarang juga.

Chat WhatsApp Sekarang
Chat WhatsApp